Lagenda Dan Sebab Kenapa Melayu Sarawak Tidak Makan Ikan Patin..!

gambar sekadar hiasan

Ikan patin adalah salah satu jenis ikan sungai atau ikan air tawar. Ikan jenis ini memiliki bentuk yang unik. Badannya panjang sedikit memipih, berwana putih perak dengan punggung berwarna kebiru-biruan, tidak bersisik, mulutnya kecil, memiliki sesungut berjumlah 2-4 pasang yang berfungsi sebagai alat peraba.

Ikan patin termasuk ikan yang hidup di dasar sungai dan lebih banyak mencari makan pada waktu malam. Diceritakan keenakan memakan ikan patin jika kena dengan menu masakan kelazatannya sehingga menjilat jari tetap walau seenak mana atau senikmat mana ikan patin mengapa ramai Melayu Sarawak tidak memakannya.

Sudah tentu ada cerita legenda disebalik mengapa dan kenapa masyarakat Melayu Sarawak mahupun Melayu di Nusantara tidak menjadikannya hidangan pembuka selera.

Alkisah, pada zaman dahulu kala, di Tanah Melayu hiduplah seorang nelayan tua yang bernama Awang Gading. Ia tinggal seorang diri di tepi sungai. Pekerjaannya sehari-hari adalah menangkap ikan dan terkadang ia pergi ke hutan untuk mencari kayu.

“Air pasang telan ke insang
Air surut telan ke perut
Renggutlah…!
Biar putus jangan rabut,”

Itu adalah kata-kata yang sering ucapkan sewaktu sedang memancing ikan.

Suatu hari di waktu dia sedang memancing dan tidak berhasil mendapat seekor pun ikan sama sekali. Di waktu perjalanan pulang dia mendengar seorang bayi yang sedang menangis. Kerana rasa ingin tahu dia mencari dari mana suara itu berbunyi . Tak lama mencari, dia pun menjumpa bayi perempuan yang comel tergolek di atas batu. Nampaknya bayi itu baru saja dilahirkan oleh ibunya,atas rasa simpati maka dibawanya bayi itu pulang ke rumahnya.

Sesampainya di rumahnya Awang Gading memberi nama bayi itu Dayang Kumunah. Dengan bahagia Awang Gading menimang-nimang sang bayi sambil mendendang. Dia berjanji akan bekerja lebih giat lagi dan mendidik anak ini dengan baik. Awang Gading juga membekalkan Dayang Kumunah berbagai ilmu pengetahuan dan pelajaran budi pekerti. Setiap hari Awang juga turut membawa sekali Dayang pergi mengail atau mencari kayu di hutan untuk mengenal kehidupan alam lebih dekat.

Waktu terus berjalan. Dayang Kumunah sudah membesar menjadi gadis yang sangat cantik dan sangat sopan,Dayang juga sangat rajin membantu ayahnya akan tetapi sayang seribu kali sayang Dayang Kumunah tidak pernah tertawa.

Suatu hari, seorang pemuda kaya dan kacak yang kebetulan lalu di depan rumah Dayang. Pemuda itu bernama Awangku Usop. Sewaktu melihat Dayang Kumunah, Awangku Usop terus jatuh hati kepadanya dan berniat untuk segera meminangnya. Beberapa hari kemudian, Awangku Usop meminang Dayang Kumunah pada Awang Gading. Setelah beberapa lama berfikir, dia menerima pinangan Awangku Usop dengan syarat, jangan pernah meminta saya untuk tertawa. Awangku Usop menyanggupi syarat yang di ajukan Dayang Kumunah tersebut.

Pernikahan pun dilangsungkan, tetapi terjadi sebuah kejadian yang tidak bahagia setelah pernikahan tersebut. Awang Gading meninggal dunia karena sakit. Peristiwa itu membuat hati Dayang Kumunah diselimuti perasaan sedih, hingga berbulan – bulan. Untungnya, kesedihan itu segera terobati dengan kelahiran anak-anaknya yang seramai lima orang.

Namun, Awang Usop merasa tidak bahagia karena belum melihat Dayang Kumunah tertawa. Sejak pertemuan pertama kali hingga kini, isteri Awang Usop belum pernah ketawa sama sekali. Tetapi di suatu petang Dayang Kumunah bersama – sama keluarganya sedang berada di teras rumah. Mereka bergurau dengan ria dan semua anggota keluarga tertawa bahagia, kecuali Dayang Kumunah. Pada saat itu Awang Usop mendesak Dayang Kumunah ikut tertawa. Akhirnya ia pu tertawa setelah sekian lama tertawa. Pada saat itulah, ternampaknya insang ikan di mulutnya. Dayang Kumunah segera berlari ke arah sungai dan segera berubah menjadi ikan.

Awang Usop menyesal kerana telah mendesak isterinya untuk ketawa. Tetapi, semua sudah terlambat. Ikan dengan bentuk badan cantik dan kulit yang berkilat tanpa sisik inilah yang orang-orang sebut sebagai ikan patin. Sebelum masuk ke sungai, Dayang Kumunah sempat berpesan kepada suaminya, “Kanda, peliharalah anak-anak kita dengan baik.”

Awangku Usop dan anak-anaknya sangat bersedih melihat Dayang Kumunah yang sangat mereka cintai itu telah menjadi ikan. Mereka pun berjanji tidak akan makan ikan patin, kerana dianggap sebagai keluarga mereka. Itulah sebabnya sebagian orang Melayu tidak makan ikan patin

SUMBER

loading...

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*